Dalam pewayangan, Semar punya karakter yang rumit dideskripsikan. Perannya jelas; guru para ksatria, tetapi ketokohannya; samar. Wajahnya tampak murung, tapi sekilas terlihat menenangkan. Mungkin semar cuma angin lalu di tengah kisah kepahlawanan.
Tapi justru sebagai angin, Semar masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan. Ia baik tanpa menginjak yang jahat. Ia bahagia tanpa takut suatu hari akan sedih. Sesederhana angin, ia ada untuk semua orang.
01
02
03Each musician is a soloist, a teacher, a listener. Together they form the texture you hear from the third row — the warmth of strings, the breath of reeds, the patience of percussion.
Melalui Semar, kami percaya bahwa kehidupan dengan berbagai lika-likunya memiliki cerita yang menarik untuk diselami. Musik pun menjadi cara kami menjangkau sekaligus menceritakan berbagai bentuk kehidupan itu.
Semar Chamber & Choir dibentuk. Kami memulai perjalanan sebagai grup musik orkestra.
Kami hadir di tengah masyarakat, membawa cerita dan harmoni yang menenangkan.
Mengakui keberagaman dan perubahan bentuk dunia melalui pertunjukan vokal dan instrumental.
Semoga semua cerita kami ke depan selalu mendampingi langkah teman-teman sekalian.
Photography by Ari Widodo, Tasha Halim, and the Semar residents. All images released under press license — credit required.
Begin the conversation. Whether you are a guest soloist, a brand manager, or a worship institution — we have a pathway for you.